Latest News

Showing posts with label Protestan. Show all posts
Showing posts with label Protestan. Show all posts

Tuesday, December 29, 2015

Selain Al Quran, Terompet Buku Liturgi Kristen Beredar di Klaten


KLATEN - Jajaran Polsek Klaten Kota membongkar pabrik pembuatan terompet berbahan baku kertas bertuliskan huruf Arab dan kertas bertuliskan tata cara ibadah umat Kristiani yang berlokasi di Gang Latar Ireng, Kelurahan Bareng, Kecamatan Klaten Tengah, Klaten, Selasa (29/12/2015).

Dalam penggerebekan itu polisi mengamankan terompet berbahan baku kertas keagamaan sebagai barang bukti. Saat ini barang bukti telah diserahkan ke Satreskrim Polres Klaten untuk penyelidikan lebih lanjut.

Kapolsek Klaten Kota, AKP Warsono, mengatakakan, operasi terompet digelar di Klaten sebagai tindak lanjut temuan terompet berbahan baku kertas Alquran yang ditemukan di Kendal.

Operasi dilakukan sejak Senin malam (28/12/2015) dengan menyisir kawasan Klaten Kota yang biasa digunakan untuk mangkal para penjual terompet eceran. Dalam operasi itu jajaran Polsek Klaten Kota menyita 34 terompet berbahan baku kertas bertuliskan huruf Arab.

Dari keterangan para penjual terompet eceran, polisi mendapati lokasi pabrik pembuatan terompet, yakni sebuah rumah di Gang Latar Ireng, Kelurahan Bareng, Kecamatan Klaten Tengah. Sejumlah terompet dan kertas bahan baku bertuliskan huruf Arab diamankan.

Kemudian operasi dilanjutkan pada Selasa siang (29/12/2015) di lokasi yang sama. Dalam operasi ini petugas juga menemukan terompet berbahan baku kertas bertuliskan tata cara ibadah umat Kristiani. Sejumlah terompet dan tumpukan kertas bahan baku diamankan.

�Para pengrajin terompet itu berasal dari Wonogiri. Mereka ngontrak di sini (Klaten). Untuk barang bukti terompet kertas bertuliskan huruf Arab dan bertuliskan tata cara ibadah umat Kristen kami serahkan ke Satreskrim Polres Klaten,� ujar AKP Warsono.

Baca juga: Di Bogor, Puluhan Terompet Bertuliskan Lagu Rohani Katolik Disita

Sementara itu salah satu pengrajin terompet, Tanto (35), asal Wonogiri, mengaku tidak tahu sebelumnya jika sebagian kertas yang digunakan sebagai bahan baku terompet tersebut ada yang bertuliskan huruf Arab maupaun buku umat Kristiani. Bahan baku tersebut ia peroleh dari para pemasok kertas.

�Saya hanya mengontrak di sini (Klaten). Saya tidak tahu kalau ada kertas yang bertuliskan keagamaan. Setelah diperingatkan, semua terompet yang sudah dibawa pengecer langsung ditarik. Ada 700an terompet. Kerugian sekitar Rp3 juta,� katanya.

Kapolres Klaten, AKBP Langgeng Purnomo, mengatakan, operasi terompet digelar serentak di seluruh jajaran polsek di Kabupaten Klaten. Sejumlah terompet berbahan kertas keagamaan telah disita sebagai barang bukti. Semua barang itu berasal dan dibuat di daerah Wonogiri.

�Kami mengimbau masyarakat agar tidak terprovokasi. Serahkan masalah tersebut kepada kepolisian. Jika ada masyarakat yang menemukan terompet berbahan kertas keagamaan untuk melapor ke polisi,� ujarnya.

Sumber: http://krjogja.com/read/285838/selain-al-quran-terompet-buku-kristen-beredar-di-klaten.kr

Thursday, December 24, 2015

Nawacita Jokowi, Tapi Gereja Ini Masih Sembunyi-sembunyi Rayakan Natal


JAKARTA - Juru Bicara Gereja Kristen Indonesia (GKI) Yasmin Bogor, Bona Sigalingging menuturkan, jemaat GKI Yasmin akan melalui malam natal di Bogor secara sembunyi-sembunyi. Menurut Bona, gereja mereka masih disegel dan negara masih belum menjamin perlindungan bagi jemaat GKI Yasmin untuk beribadah dengan damai di malam Natal.

"Suatu ironi sebenarnya, ketika di negara seperti Indonesia masih ada warga negaranya yang melakukan ibadah sembunyi-sembunyi, karena negara gagal menjamin kebebasan beragama dan beribadah," tutur Bona di Kantor LBH Jakarta, Rabu (23/12/2015).

Natal 2015 merupakan natal yang keempat kalinya bagi GKI Yasmin, saat para jemaat terpaksa melaksanakan ibadah Natal di seberang Istana Negara. Gereja mereka disegel oleh Pemerintah Kota Bogor pada April 2010 dengan alasan permasalahan Izin Mendirikan Bangunan (IMB).

Padahal, telah ada putusan Mahkamah Agung yang pada intinya membatalkan pembekuan izin terhadap pembangunan GKI Yasmin. Ombudsman juga telah mengeluarkan rekomendasi bernada sama, yang intinya mengharuskan GKI Yasmin dan HKBP Filadelfia bisa kembali dibuka dan digunakan untuk beribadah.

Namun Bona dan rekan-rekannya yang lain melihat, belum ada langkah yang dilakukan pemerintah baik pusat maupun daerah untuk membuka gereja yang disegel tersebut. Ini termasuk HKBP Philadelphia di Bekasi yang mengalami nasib sama.

"Semua proses hukum sudah dilalui dan ada putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap. Ditambah dengan Ombudsan sehingga seharusnya memang jemaat GKI Yasmin dan HKBP Philadelphia tidak dilarang ibadah seperti yang selama ini terjadi," tutur Bona.

Dia berharap, masalah penyegelan rumah ibadah yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun ini bisa segera dituntaskan baik oleh pemerintah daerah maupun pusat. Pasalnya, jika tidak segera diselesaikan maka pemerintah daerah lainnya akan mencontoh pemerintah daerah Bogor maupun Bekasi dengan mengabaikan hukum atas nama agama.

Terkait persiapan ibadah Natal di seberang Istana, Bona mengaku GKI Yasmin telah menyelesaikan proses-proses administrasi dan LBH Jakarta juga sudah berkomunikasi dengan pihak kepolisian. Bona menambahkan, saat ini hanya tinggal bagaimana pemerintah menjalankan komitmennya untuk menjunjung tinggi kebebasan beragama dan beribadah.

"Apakah negara akan maksimal melindungi kami di seberang Istana, atau akan membiarkan serangan-serangan dari kelompok intoleran? atau bahkan polisi sendiri yang membubarkan kami? Belum tahu untuk tahun ini," ujar Bona.

"Mudah-mudahan negara kami tidak semakin rusak. Karena kalau gereja kami disegel dan dilarang di seberang istana. Lalu kami akan beribadah dimana?" kata dia.

Tak Punya Gereja, Umat Kristen Aceh Singkil Ibadah Natal di Tenda

Umat Kristen Aceh Singkil beribadah di tenda sementara dekat gereja yang dibakar di Desa Suka Makmur, Aceh Singkil pada 18 Oktober 2015.

SINGKIL - Pemerintah provinsi Aceh mengimbau agar umat Kristen di Kabupaten Aceh Singkil tak lagi menggunakan lokasi gereja yang sudah dibongkar sebagai tempat peribadatan Natal. Pemprov meminta agar peribadatan dilakukan di rumah-rumah ibadah yang ada izinnya.

Kepala Biro Humas Pemerintah Provinsi Aceh Frans Dellian mengatakan bahwa tidak ada larangan terhadap perayaan Natal yang berlangsung di rumah-rumah pribadi umat, asal dilakukan �sesuai dengan ketentuan yang disepakati�.

�Maksudnya, kalau seandainya di rumah, tapi dalam jumlah besar, di luar anggota keluarga itu, itu kan berarti harus sesuai ketentuannya yang diatur di sana. Jadi kalau (diadakan) di rumah, berarti hanya untuk orang (penghuni) rumah yang bersangkutan, kalau nanti mengundang (orang), kan skalanya banyak lagi. Nah itu kan ada kesepakatannya di sana,� ujar Frans.

Menurut Frans, yang berubah dalam perayaan Natal di Aceh Singkil tahun ini hanya lokasi.

�Jika dulu merayakan di rumah ibadah yang sekarang sudah ditutup kemudian, pindah ke rumah ibadah yang sudah ada izin. Itu aja masalah penggeseran, � kata Frans lagi.

Namun pemimpin Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi Elson Lingga yang mewakili umat Kristiani di Aceh Singkil mengatakan rencana pemerintah tersebut sulit dilakukan.

Alasannya, menurut Elson, alternatif tempat ibadah yang tersedia adalah ke Tapanuli Tengah yang lokasinya sekitar 40 km dari Aceh Singkil. �Ke tempat pengungsian yang dulu, itu kan penuh risiko, selain juga biaya tinggi, kendaraan juga sulit, Risikonya itu, kalau rombongan-rombongan berjalan itu justru tidak aman. Kekhawatiran mereka itu, kalau dilarang (di lokasi gereja), kalau di rumah juga dilarang, mereka ketakutan, gimana kami itu,� ujar Elson.

Menurut Elson, ada permintaan lisan yang disampaikan oleh pemerintah kepada umat Kristiani di Aceh Singkil dalam pertemuan dua hari terakhir agar mereka tak lagi menggunakan tempat ibadah yang sudah dibongkar atas dasar �tekanan dari pihak intoleran yang akan bertindak.�

Frans mengatakan bahwa pemerintah sudah menyiapkan bus yang selama ini digunakan untuk mengangkut anak sekolah agar digunakan bagi transportasi umat yang harus pindah rumah peribadatannya.

Namun ketika disinggung soal bus yang dijanjikan pemerintah, �Ya nggak ada lah. Tapi gimana caranya itu, besok tanggal 24-25 Natal, sekarang dijanjikan, gimana caranya itu. Ini kan bukan cuma 1 gereja, (tapi) 10 gereja, gimana caranya itu?�

Informasi yang kita dapat, mereka hanya diperbolehkan di gereja yang memiliki izin, padahal yang punya izin hanya dua, gereja. Sementara jumlah umatnya ditotal mencapai 30 ribu warga.

Wakil ketua Setara Institute Bonar Tigor Naipospos mengatakan bahwa tak semestinya pemerintah melarang peribadatan Natal di rumah-rumah pribadi bagi kelompok dalam jumlah besar.

�Tidak ada larangan bagi sebuah kelompok untuk melakukan kebaktian, upacara Natal, di suatu tempat yang bukan gereja, apalagi dalam keadaan darurat seperti ini,� ujar Bonar.

Bonar menyebut bahwa konstitusi menyatakan setiap WNI bebas menjalankan agama dan kepercayaan, sekaligus juga memiliki hak kebebasan berkumpul sehingga dia menilai imbauan Pemprov Aceh ini �melanggar konstitusi�.

�Negara boleh melakukan pengaturan, membuat undang-undang, tapi bukan kemudian merampas hak tersebut. Kecenderungan selalu seperti ini. Dengan alasan menjaga keamanan, ada protes dari kelompok lain, kemudian mereka yang kecil diminta untuk mengalah, bahkan haknya diabaikan, ini kecenderungan terus berulang, bukan hanya masa sekarang ini, tapi di masa SBY, Soeharto. Ini ada toleransi semu sebenarnya yang terjadi sekarang ini,� ujar Bonar.

Pemerintah menurut Bonar seharusnya bisa memberi bantuan lebih agar hak warga negara untuk beribadah tetap terpenuhi, di tengah situasi yang �darurat�.

Friday, November 13, 2015

Di Medan, Katolik Tidak Dicantumkan Sebagai Agama di Kolom KTP


MEDAN � Hingga saat ini kolom KTP bagi agama katolik di Medan tidak pernah ada. Hal ini pula membuat agama Katolik seolah-olah merasa dimarjinalkan, padahal pertumbuhan jumlah umat Katolik di Medan cukup besar.

�Saat ini kolom agama di KTP hanya dituliskan Kristen. Padahal Kristen itu identik dengan Protestan, bukan Katolik. Kita seolah-olah dimarginalkan,� kata tokoh masyarakat katolik, Hendrik Halomoan Sitompul, Minggu (8/11).

Akibat penulisan Kristen itu, kata Hendrik, terjadi ketidaksinkronan data antara yang dimiliki Pemerintah Kota dengan K?euskupan Agung Medan.

�Jika kita lihat pertumbuhan jumlah umat Katolik di Medan cukup besar. Kebaktian kami selalu berjalan semarak dan ramai dengan kedatangan umat. Tapi dari aspek administrasi kepemerintahan, kami seolah dianggap bagian kecil,� jelasnya.

Selain dari aspek administrasi kependudukan, umat Katolik juga dinilai jauh dari sentuhan bantuan dari pemerintah. Padahal gereja-gereja Katolik berperan besar dalam upaya menyukseskan program pembangunan Kota Medan.

�Saya kira belum ada bantuan untuk guru atau pastor maupun pengurus-pengurus gereja Katolik. Padahal sinergitas antara pemerintah dengan mereka penting untuk ditingkatkan dalam rangka menyerukan pada umat untuk menyukseskan program pemerintah kota,� ungkapnya.

Untuk itu, dirinya meminta agar Pemerintah Kota Medan untuk mencantumkan Katolik sebagai salah satu isi dalam kolom agama di Kartu Tanda Penduduk (KTP) tersebut.

�Kami meminta agar Katolik tetap dipakai. Ini juga akan membantu dari sisi pendataan, baik buat pemerintah maupun buat kami,� pungkasnya.

Monday, November 2, 2015

Mengapa Orang Katolik Mendoakan Arwah?


Hari Arwah atau Hari Semua Arwah (penerjemahan secara harfiah dari bahasa Inggris: All Soul's Day) adalah suatu hari yang dirayakan untuk memperingati semua orang beriman yang telah meninggal dalam agama Kristen; biasanya untuk mengenang arwah kerabat, walaupun tidak secara khusus dimaksudkan untuk itu. Dalam Kekristenan Barat, perayaan tahunan ini sekarang diperingati setiap tanggal 2 November dan terkait dengan Hari Raya Semua Orang Kudus (1 November), serta vigilinya, Halloween (31 Oktober).

Bertepatan dengan Hari Arwah Gereja Katolik yang jatuh pada tanggal 2 Nopember. Pada hari tersebut kita sebagai umat Katolik diajak secara khusus meluangkan waktu untuk mendoakan arwah-arwah sanak-saudara, dan orang-orang lain yang telah mendahului kita. Doa-doa tersebut akan membantu arwah-arwah yang sedang berada di Api Penyucian untuk mendapatkan pengampunan dosa dari Tuhan, sehingga mereka bisa masuk ke Surga.

Mendoakan para arwah sudah dilakukan umat gereja perdana.
Sejak masa awal perkembangan agama Kristen, umat Kristiani telah mendoakan keluarga dan teman yang sudah meninggal dunia. Hal ini dibutktikan dengan adanya doa tertulis di katakomba. Di dalam Kitab Suci, praktek mendoakan keluarga yang telah meninggal tercatat pada kitab Makabe dan 2 Timotius 1:18 (Santo Paulus berdoa untuk Onesiforus yang telah meninggal dunia). Berdasarkan Alkitab, umat beriman akan mengalami masa pemurnian dari dosa setelah manusia mengalami kematian. Masa pemurnian in sering kali disebut sebagai api penyucian (purgatorium).

Pada abad ke-6, komunitas Benediktin memperingati umat yang telah meninggal pada perayaan Pentakosta. Pada tahun 998, perayaan hari arwah menjadi peringatan umum di bawah pengaruh rahib Odilo dari Biara Cluny. Mulai saat itu, perayaan arwah diadakan setiap tanggal 2 November di kalangan ordo Benediktin, biara Carthusian, gereja Anglikan, dan sebagian gereja Lutheran.

Perayaan liturgi dalam Ritus Roma secara resmi menyebutnya "Peringatan Arwah Semua Orang Beriman". Di beberapa negara, misalnya Meksiko, perayaan tersebut disebut sebagai Hari Orang Mati.


Saat ini Peringatan Arwah Semua Orang Beriman dirayakan setiap tanggal 2 November, yaitu sehari setelah peringatan Hari Raya Semua Orang Kudus. Dalam revisi Ritus Roma tahun 1969, jika tanggal 2 November jatuh pada hari Minggu maka perayaan Misa menggunakan liturgi Hari Arwah sedangkan Ibadat Harian menggunakan liturgi hari Minggu tersebut, tetapi perayaan publik Laudes (Ibadat Pagi) dan Vesper (Ibadat Sore) dari Doa Ofisi untuk Orang Meninggal tetap diperbolehkan. Di Inggris dan Wales, di mana hari raya wajib yang jatuh pada hari Sabtu dipindahkan ke hari berikutnya, jika 2 November bertepatan dengan hari Minggu maka Hari Raya Semua Orang Kudus dipindahkan ke hari tersebut dan Hari Arwah dipindahkan ke 3 November (Senin).

Mereka yang telah meninggal dunia dapat memperoleh indulgensi, baik indulgensi penuh ataupun sebagian, jika umat yang masih hidup melakukan perbuatan tertentu dan memenuhi persyaratan yang ditentukan.

Seringkali kita sebagai umat Katolik mendapat pertanyaan, mengapa orang Katolik mendoakan sanak saudara atau orang yang sudah mendahului kita. Bukankah orang mati dan kita sudah tidak ada hubungannya lagi, dan bukankah setiap orang yang sudah percaya dan menerima Kristus sebagai Tuhan dan juruselamatnya sudah mendapat jaminan hidup yang kekal. Apakah itu alkitabiah?

Menurut Kitab Suci
Dalam Perjanjian Lama berdoa bagi orang mati terdapat di 2 Makabe 12:38-45.
Perikop ini mengisahkan bahwa ditemukan jimat-jimat dalam jubah pada orang-orang yang gugur dalam perang suci yang dipimpin oleh Yudas Makabe.
Maka segeralah mereka semua yang ada di tempat itu memuliakan Tuhan dan berdoa memohon Tuhan menghapuskan dosa-dosa mereka semua serta dikumpulkan uang untuk dikirimkan ke Yerusalem supaya para Imam di Bait Alah mempersembahkan korban penghapusan dosa bagi mereka gugur itu. Yudas dan anak buahnya melakukan ini karena mereka percaya bahwa mereka yang gugur itu akan bangkit.
Dalam Sirakh 7:33 juga dituliskan bahwa �Hendaklah kemurahan hatimu meliputi semua orang yang hidup, tapi orang matipun jangan kau kecualikan pula dari kerelaanmu�. Ayat ini mempunyai pengertian bahwa bantuan melalui doa-doa dan persembahan kepada orang yang sudah mendahului kita tidak akan sia-sia, karena itulah bentuk perhatian dan bantuan kita secara rohani kepada mereka.

Kedua kitab tersebut. di atas termasuk dalam kelompok Kitab Deteurokanonika yang tidak diakui oleh Gereja Kristen Protestan. Di sinilah letak perbedaannya.

Dalam Injil Matius 12:32 �Apabila seorang mengucapkan sesuatu menentang Anak Manusia (manusia Yesus), ia masih diampuni, tetapi jika ia menentang Roh Kudus. Ia tidak akan diampuni. Di dunia ini tidak di dunia akan datangpun tidak�.

Ayat ini mempunyai arti bahwa jika seseorang menentang Roh Kudus maka dia tidak akan diampuni baik di dunia ini juga di dunia akan datang, artinya masih ada dosa-dosa yang bisa diampuni di dunia yang akan datang, ini menunjukkan masih ada harapan bagi orang yang sudah meninggal kalau orang tersebut belum di Surga atau di neraka, mereka ini masih di api penyucian (Purgatory). Karena keadaan orang yang sudah di Surga atau di neraka sudah tidak bisa diubah lagi atau didoakan.

Apa yang harus kita lakukan?
Dalam Ajaran Gereja Katolik kita mengenal adanya indulgensi.
"Sebuah indulgensi adalah sebagian atau penuh sesuai dengan apakah indulgensi tersebut menghapuskan sebagian atau segenap hukuman sementara yang disebabkan oleh dosa." Indulgensi bisa dikenakan kepada orang hidup maupun orang yang sudah meninggal." (Katekis Gereja Katolik nomor 1471).
Indulgensi adalah penghapusan sebagian atau seluruh hutang dosa di hadapan Tuhan atas hukuman sementara akibat dosa-dosa yang sudah diampuni serta untuk memulihkan luka-luka jiwa kita yang diakibatkan oleh dosa.

Tuhan lah yang memberikan wewenang kepada Gereja untuk memberikan indulgensi melalui perbuatan dan doa kita, kita boleh memperoleh indulgensi. Nah melalui indulgensi yang kita terima dapat membantu jiwa-jiwa di api penyucian supaya mereka cepat tiba di Surga.

Timbul pertanyaan bukankan kita sudah memperoleh pengampunan dosa melalui Sakramen Tobat?
Bahwa sejak kejatuhan manusia pertama dalam dosa, maka manusia cenderung melakukan dosa, dan setiap dosa itu melukai jiwa kita yang mengakibatkan manusia sulit menghindari dari perbuatan dosa yang sama di masa mendatang. Melalui Sakramen Tobat kita mendapat pengampunan dosa dengan penitensi, tetapi akibat dari dosa pada jiwa kita masih ada, dan tidak dapat kita rasakan / lihat. Maka jiwa kita harus dibersihkan, baik ketika kita masih hidup di dunia ataupun kelak kita meninggal. Tuhan melalui Gereja-Nya menyediakan bonus yang disebut indulgensi melalui doa dan silih yang kita lakukan.


Bagaimana cara menghindari Api Penyucian?
"Kamu tidak boleh takut pada Api Penyucian karena penderitaan di sana, tetapi mintalah bahwa kamu tak perlu ke sana untuk menyenangkan Allah, yang sangat enggan mengenakan hukuman itu." ~ St. Theresia Lisieux
Santo Paulus dalam 1 Korintus 3:10-15 menekankan betapa pentingnya bagi kita untuk memiliki dasar yang kuat dalam membangun bangunan rohani supaya tahan uji. Dasar yang kuat itu adalah Yesus Kristus sebagai pedoman hidup kita. Kalau kita bangunan hidup kita tidak di atas dasar yang kuat yaitu Yesus Kristus maka bangunan kita tidak akan tahan uji oleh api.

Kita membangun bangunan rohani melalui hidup sehari-hari dengan sungguh-sungguh memperbaiki diri mulai dari hal-hal yang kecil (berpikiran negatif, bohong demi kebaikan, membandingkan diri dengan orang lain, bersikap keras / kasar terhadap orang lain, menyakiti hati orang lain dsb). Mengapa? Karena hal-hal yang kecil sering kita tidak memperhatikan karena kita pikir tidak penting, tetapi Tuhan mencatat semuanya, sekecil apapun yang kita lakukan semuanya tercatat oleh Tuhan.

Dimana bangunan kita akan diuji oleh Tuhan?
Bangunan hidup kita akan diuji di Api Penyucian (Purgatory). Oleh karena itu selagi kita masih hidup di dunia, inilah kesempatan kita untuk terus memperkuat dasar bangunan kita dalam Yesus Kristus dengan selalu belajar dan berusaha hidup sesuai kehendak-Nya, selain itu untuk sanak saudara dan orang-orang yang sudah mendahului kita, sepatutnyalah kita mendoakan supaya mereka segera masuk ke Surga, dengan demikian kelak merekapun akan berdoa bagi kita.

Sumber:

Saturday, October 24, 2015

Sembilan Gereja Telah Dibongkar Pemkab Singkil


SINGKIL - Satpol PP kembali membongkar gereja di Aceh Singkil yang tidak memiliki izin. Kepala Satpol PP Aceh Singkil, Abdullah mengatakan hari Jumat, 23 Oktober 2015 Gereja Katolik Desa Magarab, Kecamatan Danau Paris yang dibongkar karena tidak memiliki izin.

�Ya kita bongkar satu unit, sebelum Shalat Jumat tadi sudah selesai karena bangunannya setengah permanen,� kata Abdullah.

Ia mengatakan sudah sembilan unit gereja yang tidak ada izin dibongkar secara manual. �Ada satu lagi, kita tunggu perintah dari atasan,� kata Abdullah singkat. Pembongkaran ini mendapat pengawalan ketat dari TNI Polri.

Sebelumnya, Muspida Aceh Singkil menandatangani kesepakatan untuk membongkar 10 unit gereja yang tidak memiliki izin pada 12 Oktober 2015. Gereja-gereja tersebut mulai dieksekusi oleh Satpol PP sejak 19 Oktober 2015.

Hari pertama, 19 Oktober 2015, Satpol PP Aceh Singkil membongkar Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD) Desa Madumpang, GKPPD Desa Siompin dan Gereja Misi Injili Indonesia (GMII) Desa Siompin Kecamatan Suro, Aceh Singkil.

Kemudian besoknya, Selasa 20 Oktober 2015, Satpol PP membongkar GKPPD Desa Kuta Tinggi dan GKPPD Desa Tuh Tuhan di Kecamatan Simpang Kanan.

Selanjutnya pada Rabu, 21 Oktober 2015, Satpol PP hanya membongkar satu unit bangunan gereja katolik di Desa Lae Balno, Kecamatan Danau Paris.

Hari berikutnya, Kamis 22 Oktober 2015, Satpol PP membongkar dua unit gereja yaitu GKPPD Desa Sangga Beru Silulusan Kecamatan Gunung Meriah dan GKPPD Desa Pertabas Kecamatan Simpang Kanan.

Kemudian Jumat 23 Oktober 2015, Satpol PP hanya membongkar satu bangunan yaitu Gereja Katolik Desa Magarab, Kecamatan Danau Paris.

Informasi yang diperoleh, tinggal satu bangunan lagi yang belum dibongkar yaitu GKPPD Desa Dangguran, Kecamatan Simpang Kanan, Aceh Singkil. Lokasi ini tempat terjadi peristiwa bentrok yang mengakibatkan satu orang meninggal dunia dan beberapa orang lainnya mengalami luka.

Tuesday, October 20, 2015

Pembongkaran Gereja di Singkil Sudah Dimulai, Jemaat Pasrah dan Menangis

Pembongkaran gereja di Singkil
SINGKIL - Pemerintah Aceh Singkil mengerahkan sekitar 20 satpol PP untuk melakukan pembongkaran tahap pertama terhadap 10 gereja yang dinyatakan tak memiliki izin, Senin 19 Oktober.

Pembongkaran pertama dilakukan pukul 09.00 WIB waktu setempat terhadap undung-undung, atau rumah ibadah kecil Katolik di Desa Mandumpang, Kecamatan Suro.

Bangunan yang berkonstruksi kayu itu cukup sederhana sehingga pembongkaran hanya membutuhkan waktu 1,5 jam, dengan menggunakan palu, martil, beliung, gergaji, jelas Edi Sugianto Putra, wartawan Radio Xtrafm Singkil, yang meliput untuk BBC Indonesia.

Kemudian para petugas bergerak ke Desa Siompin yang berjarak sekitar 1km untuk mengeksekusi perintah pembongkaran terhadap dua gereja di desa itu, yakni Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD), dan Gereja Misili Injil Indonesia (GMII).

Pembongkaran yang berlangsung dengan kawaran lebih dari sekitar 100 polisi dan tentara itu berlangsung tanpa perlawanan dari para jemaat gereja.

Seorang Ibu jemaat GKPPD Desa Siompin Kecamatan Suro Kab, Aceh Singkil menangis saat melihat rumah ibadahnya dirobohkan, 19 Oktober 2015.

Isak Tangis Jemaat Kala Gereja Dibongkar

Tampak sejumlah jemaat Kristiani menyaksikan perubuhan rumah ibadah mereka. Beberapa jemaat malah menangis, sehingga harus ditenangkan oleh Camat Suro, Abdul Manaf. Menurut Abdul Manaf, pembongkaran itu merupakan hasil kesepakatan para pihak sebelumnya berhubung gereja-gereja tersebut didirikan tanpa izin.

Tidak hanya anak-anak dan kaum hawa, pria dewasa jemaat GKPDD Desa Siompin menangis saat pembongkaran. Mereka mengenang kembali proses pembangunan undung-undung tersebut.

"Undung-undung ini dibangun dari sumbangan warga kami yang kerjanya buruh harian lepas. Kalau teringat ke situ, Pak, ada yang (kerja) harian, kami kumpulkan untuk bangun ini. Kami tidak minta-minta,� ujar pengurus GKPDD Desa Siompin, Paima Brutu, 35 tahun, sambil menangis.

Paima hanya bisa pasrah ketika melihat gereja kecilnya dibongkar dan menyerahkan seluruhnya kepada pemerintah.

"Kalau ditanya hati kecil, memang berat (menyaksikan pembongkaran gereja). Tapi ini kan sudah keputusan pemerintah," ujar Paima Berutu.

Pembongkaran dua undung-undung dan satu gereja tersebut merupakan buntut kerusuhan yang menewaskan satu orang pada 13 Oktober 2015. Ketika itu sekelompok orang membakar Gereja Huria Kristen Indonesia di Desa Suka Makmur, Kecamatan Gunung Meriah. Pembakaran dipicu protes massa terkait dengan pembangunan gereja yang tidak memiliki izin.

Paima mengakui undung-undung yang ia bangun bersama jemaatnya belum memiliki izin. Pada 2006 mereka mengajukan izin ke pemerintah kabupaten. Bahkan mereka menembuskan permintaan tersebut hingga ke Jakarta. Namun hingga saat ini mereka belum mendapatkan izin. Paima tidak tahu mengapa izin tersebut terhambat.

Saat pembongkaran, Paima berdiri di antara anggota jemaat lainnya yang berjarak 50 meter dari undung-undung. Menurut dia, jumlah anggota jemaat GKPDD Desa Siompin mencapai 520 orang dari 112 keluarga.

'Harga mati'

Pemerintah beralasan pembongkaran 10 gereja sudah merupakan kesepakatan antara berbagai pihak, dan awalnya diharapkan akan dilakukan pihak gereja sendiri.

Namun seperti dikatakan Paima Berutu dari GKPPD, para jemaat tidak bersedia membongkar gereja sendiri.

"Hari Minggu kemarin, Bupati Aceh Singkil memang menyarankan kami bongkar sendiri. Tapi semalam, kami jemaat gereja, sepakat satu gereja untuk menyerahkannya kepada pemda. Kami tidak tega untuk membongkar rumah ibadat kami sendiri," kata Paima Berutu.

Sumber:

Wednesday, October 14, 2015

2.500 Warga Kristen Aceh Singkil Mengungsi Karena Ketakutan


SINGKIL - Ada sebanyak 2.500 warga Kristen dari Kabupaten Aceh Singkil, Provinsi Aceh, ketakutan dan memilih mengungsi setelah terjadi serangan dari massa yang berujung pada perusakan dan pembakaran gereja hingga mengakibatkan dua orang tewas, Selasa (13/10/2015).

Menurut Pendeta Sihol Hasugian yang membantu para pengungsi dari Aceh Singkil, 2.500 pengungsi ditempatkan di dua kabupaten di Provinsi Sumatera Utara.

Sebanyak 1.500 orang ditempatkan di Kecamatan Manduamas, Kabupaten Tapanuli Tengah. Sedangkan sisanya ditempatkan di Kecamatan Sibagindar, Kabupaten Pakpak Barat.

�Mayoritas pengungsi adalah ibu-ibu dan anak-anak. Mereka tidak membawa apa-apa, kecuali diri mereka sendiri,� kata Pendeta Sihol, Rabu pagi (14/10/2015).

Para pengungsi, ucap Pendeta Sihol, tiba secara bergelombang dari kemarin sore hingga Rabu pagi. Pendeta Sihol dan timnya telah membuka posko kemanusiaan untuk membantu para pengungsi yang ketakutan akibat bentrok massa di Aceh Singkil.

Saat ini Pendeta Sihol dan timnya mengharapkan bantuan dari masyarakat untuk para pengungsi, seperti sembako, selimut, dan pakaian.

Menurut Pendeta Sihol, pengungsian sebanyak ini baru pertama kali terjadi. Sebelumnya, bentrok terkait dengan pendirian rumah ibadah di Aceh Singkil pernah terjadi beberapa kali, tapi dapat diselesaikan secara musyawarah. �Pernah terjadi seperti ini, tapi tidak sebesar ini yang mengungsi,� ujar Pendeta Sihol.

Dari informasi yang ia terima, masih banyak warga Aceh Singkil yang berusaha lari dari rumahnya untuk menyelamatkan diri. Namun mereka tidak bisa keluar karena situasi yang tidak aman di sana.


Baca juga:

Tuesday, October 13, 2015

Kerusuhan Pecah di Aceh Singkil, Warga Bakar Gereja


SINGKIL - Kerusuhan terjadi di Kabupaten Aceh Singkil, Provinsi Aceh, Selasa (13/10). Sekelompok massa dengan membawa senjata tajam mendatangi salah satu gereja dan melakukan pembakaran. Aparat keamanan disebut kesulitan mengatasi aksi massa.

Menurut keterangan pendeta Erde di Singkil, yang merupakan kepala Gereja di HKI Gunung Meria, sekitar pukul 11.00 WIB sekitar 700 orang mendatangi salah satu gereja lalu membakar.

�Polisi tak bisa berbuat apa-apa selain meminta jemaat untuk pergi,� ujar pendeta Erde.

Menurutnya, setelah melakukan pembakaran, massa melanjutkan aksi dengan melakukan sweeping. Pendeta Erde mengklaim ada sekitar 10 gereja HKI di wilayah Singkil yang dijadikan target.

Sementara itu, Bupati Aceh Singkil, Safriadi, mengatakan aksi anarki terjadi dengan pembakaran satu gereja dan satu rumah ibadah kecil oleh sekelompok massa.

�Terjadi aksi anarki. Massa membakar satu gereja, satu undung-undung (rumah ibadah berukuran kecil). Ketika hendak ke tempat ketiga, massa diamankan tentara dan polisi,� kata Bupati Aceh Singkil, Safriadi.

Aparat kemanan bersenjata lengkap berjaga-jaga namun suasana sulit dikendalikan sehingga pembakaran rumah ibadah tak bisa dihindari. Situasi mencekam sangat terasa sejak dinihari tadi. Wartawan kesulitan mendekat ke arah massa. Sebab mereka melarang mengambil foto. Malah salah satu pekerja pers sempat terkena sasaran amukan warga yang tidak mau dijepret kamera.

Pembakaran rumah ibadah terjadi sekitar pukul 12.00 WIB. Sekitar 800 meter sebelum lokasi mereka turun dari mobil bak terbuka dan sepeda motor. Usai membakar gereja, massa kemudian bergerak ke lokasi lain. Puluhan polisi bersenjata lengkap yang berjaga tak dapat menghalau massa yang sangat banyak. Hingga saat ini, situasi keamanan di Aceh Singkil masih mencekam. Massa masih melakukan pergerakan.

Camat Gunung Meriah, Deni Oskandar, membenarkan kejadian tersebut. Saat ini rumah ibadah yang disebut undung-undung tersebut telah hangus dibakar.

"Sebuah undung-undung, kondisinya sekarang sudah hangus,� kata Deni.

Berdasarkan informasi persoalan ini dipicu ketidak puasan warga dengan kesepakatan Pemkab Aceh Singkil, tokoh ulama serta ormas islam terkait pembongkaran gereja. Massa menginginkan eksekusi pembongkaran dilakukan hari ini juga. Sementara dalam kesepakatan pembongkaran baru dilakukan pekan depan.

Sumber:

Monday, October 12, 2015

Atas Desakan Ormas Islam, Sepuluh Gereja ini Dibongkar Pemerintah Aceh Singkil


SINGKIL - Sepuluh gereja di Aceh Singkil akan dibongkar dalam kurun dua pekan ke depan. Hal itu disepakati dalam rapat antara Bupati Aceh Singkil, Safriadi, Muspida, ulama, ormas islam serta tokoh masyarakat, Senin (12/10/2015) di ruang pertemuan kantor Setdakab setempat di Pulau Sarok, Singkil.

Kesepakatan lain, disebutkan pembongkaran gereja dimulai tanggal 19 Oktober sampai dua pekan kedepan. Selanjutnya rumah ibadah yang tidak dibongkar harus mengurus izin dengan tenggat waktu selama enam bulan. Kemudian tokoh ulama diminta menenangkan umat agar tidak terjadi hal tak diinginkan.

Poin lainnya dari kesepakatan, pendirian rumah ibadah harus memenuhi persyaratan sebagaimana diatur dalam undang-undang. Hasil kesepakatan tersebut, akan disosialisasikan Muspida di Masjid Lipat Kajang Bawah, Kecamatan Simpang Kanan, malam ini juga.

Hal tersebut dilakukan untuk menenangkan masa yang mana pada Selasa (13/10/2015) merupakan batas waktu terakhir yang diberikan.

Sebagaimana diketahui sebelumnya, massa Pemuda Peduli Islam (PPI) Aceh Singkil, Selasa (6/10/2015) lalu menggelar unjuk rasa. Mereka mendesak agar gereja tak memiliki izin dibongkar. Jika sampai besok, Selasa (13/10/2015) tidak dilaksanakan maka mereka yang akan membongkarnya.

Berikut nama sepuluh gereja yang dibongkar pemerintah Aceh Singkil yakni:
GKPPD Desa Sukamakmur, Kecamatan Gunung Meriah
GKPPD Pertabas
GKPPD Kuta Tinggi
GKPPD Tutuhan
GKPPD Dangguran, Kecamatan Simpang Kanan.
GKPPD Mandumpang
GKPPD Siompin
GMII Siompin, Kecamatan Suro
GKPPD Situbuhtubuh, Kecamatan Danau Paris.
Gereja Katolik Lae Balno, Danau Paris.


Baca juga:

Friday, October 9, 2015

Keindahan Gereja-gereja di Dunia dengan Panorama Vertikal Karya Richard Silver


Fotografer bernama Richard Silver berhasil memotret sejumlah foto menakjubkan dengan gaya vertikal dari gereja-gereja yang pernah ia kunjungi di seluruh dunia.

"Semua berawal pada tahun 2012, yang memotret beberapa gereja di New York, yang kemudian berkembang terus sampai saat ini," papar Silver.

Bawa saya ke gereja

Terlepas dari keyakinan agama Anda, tidak ada yang menyangkal bahwa ada beberapa gereja yang benar-benar cantik di sekitar. Dan tidak ada yang lebih baik dalam menangkap keindahan mereka selain fotografer Richard Silver, yang memotret panorama menakjubkan dari interior gereja.


The Native New Yorker mengatakan kepada Metro.co.uk: 'Ini proyek memotret gereja dalam Panorama Vertikal dimulai di New York pada tahun 2012 tetapi sekarang telah menjadi kehidupan tersendiri bagi saya. Total ada 220 kota dan 75 negara yang Silver kunjungi untuk proyek ini.

"Saya telah melakukan perjalanan ke setidaknya 25 kota baru di seluruh dunia dan telah mengumpulkan lebih dari 100 foto Gereja yang berbeda dengan Panorama Vertikal bahwa suatu hari saya berharap untuk memasukkan ke sebuah buku cetak."

Simak foto-fotonya di bawah ini:

Vincent de St. Paul in New York

St. Vartan Armenian Cathedral in New York

St. Monica�s Church in New York

Serbian Orthodox Cathedral of St. Sava in New York

Our Lady of Pompeii in New York

Most Holy Redeemer Church in New York

Grace Church in New York

Church of the Village in New York

Church of St. Francis Xavier in New York

Church of St. Vincent Ferrer in New York

Church of St. Stephen in New York

Church of St. Paul the Apostle in New York

Calvary Episcopal Church in New York

All Souls Church in New York

Our Lady of Guadalupe at St. Bernard�s Church in New York

Franciszkanska Church in Krakow

Cathedral of Christ the King in Johannesburg

St. Vincent De Paul in California

Cathedral of the Holy Name in Mumbai

Dominican Church in Krakow

Iglesia de San Francisco in Mexico City

Hallgr�mskirkja Iceland

St. Martin's Cathedral in Bratislava

St. Mathias in Budapest

St. Mary's Church in Poland

Potosi's Convent of Santa Teresa in Bolivia

St. Andreas in D�sseldorf

The Church of Saint Augustin in Vienna

St. Cajetan in Goa, India

Church of the Transfiguration in Krakow

Berapa lama setiap foto biasanya dapat diambil sepenuhnya?
Untuk benar-benar mengambil foto hanya membutuhkan waktu sekitar satu menit selama tidak ada satu orangpun di jalan, saya mengambil jepretan dan jika saya tidak menggunakan tripod. Jika saya memiliki waktu dan saya diizinkan untuk menggunakan tripod, sekitar 5 menit. Karya nyata dilakukan sekali di depan komputer saya. Dengan menggunakan Adobe Lightroom dan Photoshop, saya menggabungkan 6-10 foto bersama untuk menciptakan Panorama Vertikal, ini memakan waktu sekitar 20 menit untuk menyelesaikan. Jadi waktu sepenuhnya yang diperlukan dari awal sampai akhir adalah sekitar setengah jam untuk setiap foto.

Apa yang mengilhami Anda untuk memperluas seri vertikal Gereja untuk gereja-gereja di luar New York?

Saya selalu mengambil foto gereja dalam perjalanan saya, sebagai arsitektur adalah bagian besar dari portofolio fotografi saya. Sekarang memiliki visi untuk menjepret, dengan cara ini aku benar-benar mengintai kota untuk mencari tahu di mana ada beberapa gereja. Saya ingin portofolio saya menjadi cukup besar sehingga suatu hari saya dapat memiliki buku cetak.

Dalam bio Anda, Anda mengatakan "Dengan berbagi perspektif saya dengan orang lain, saya bertujuan tidak hanya untuk menyajikan sebuah foto, tetapi juga lensa ke perasaan saya dan pandangan di saat tertentu." Bagaimana Anda menggambarkan perasaan Anda saat Anda berdiri di masing-masing gereja-gereja yang indah? 

Masing-masing memiliki momen tunggal bagi saya. Baik itu beberapa gereja yang sangat ramai dengan turis, beberapa benar-benar kosong jadi saya pindah ke tindakan berbeda untuk setiap keadaan. Ketika itu kosong saya menyerap lebih dari perasaan bangunan dan apa yang diwakilinya, saya menghargai ketenangan gereja. Kemudian ketika mereka begitu ramai bahwa saya tidak dapat menyelesaikan foto-foto saya, perasaan yang terburu-buru dan tidak istimewa sama sekali. Saat-saat lain ketika ada umat berdoa dan kadang-kadang merasa seperti saya mengganggu di waktu pribadi damai mereka, yaitu ketika saya merasa tidak nyaman. Saya selalu mencoba dan menjadi setenang mungkin tahu persis keberadaan saya.

Gereja / Katedral / Basilika mana yang telah menjadi favorit Anda untuk memotret? Mengapa?
Itu adalah salah satu yang sulit untuk dijawab. Saya pikir itu adalah gereja Ortodoks Serbia di New York. Aku melewati gereja spektakuler ini hampir setiap hari dan itu hanya buka pada hari Minggu untuk ibadah. Biarawan benar-benar membuka gereja hanya untuk saya memotret selama seminggu. Saya merasa terhormat untuk dapat memotret seperti bagian keindahan arsitektur. Saya akhirnya mencetak foto untuk dia, untuk dipajang di kantornya.

Apakah Anda memiliki pengalaman yang mengesankan dari perjalanan Anda, menangkap set terbaru Anda dari gereja-gereja yang menakjubkan, bahwa Anda dapat berbagi dengan kami?

Aku berada di Krakow, Polandia pada perjalanan saya paling baru. Teman saya dan saya kembali ke Gereja St. Marys 'untuk ketiga kalinya karena hanya ada waktu tertentu setiap hari yang Anda diijinkan untuk mengambil foto. Jadi ketika kami kembali mereka yang mengurus upacara ini bahwa kita tidak tahu untuk apa itu. Ada tentara bersenjata, kostum dari berbagai era yang berbeda dan 3 orang menangani ini elang besar yang liar. Gereja ini begitu indah dengan langit-langit biru dan indah dihiasi dengan salib gantung unik dari langit-langit. Tidak ada yang berbicara bahasa Inggris sehingga kita tidak pernah tahu upacara apa yang diperingati.

Sumber:

Recent Post